Kamis, 28 Agustus 2014

sahabat,cinta,mati



Hello guys., disini saya akan berbagi tentang sebuah cerita antara Cinta, Sahabat, dan Mati


PERSAHABATAN  PERCINTAAN dan KEMATIAN
Berawal dari sebuah persahabatan. Lalu terjalinlah hubungan percintaan. Rajutan cinta dan kasih yang terwujud dalam kehidupan yang nyata dengan akhir sebuah kematian.
           
            Seperti perjalanan hidup yang telah dilalui Fulan dan Candra. Mereka adalah dua orang pelajar yang masih duduk dibangku SMP. Mereka bersekolah di sekolah dan kelas yang sama. Keduanya sama-sama sisa yang berprestasi. Tak heran jika keduanya selalu meraih peringkat pertama dan kedua setiap kali pengambilan hasil tes tengah semester maupun semesteran.

            Keduanya sama-sama rajin dalam belajar maupun beribadah. Keduanya juga tergolong murid yang aktif dalam berbicara dan berpartisipasi di dalam kelas dan sekolah. Dan mereka juga sudah tiga tahun bersama dalam kelas, yang ternyata diam-diam mereka telah menjalin suatu hubungan yang tak diketahui teman dan guru-guru di SMP.

            Hubungan mereka berlanjut di SMA. Keduanya berada dalam satu sekolah bahkan satu kelas pula. Mereka sama-sama masuk SMA faforit.

            Hubungan mereka mulai diketahui sejak salah seorang teman SMP mereka yaitu Adinda yang mempunyai ide untuk mengadakan reuni teman SMP dengan membawa partner masing-masing.

            Disuatu tempat saat mereka mengadakan reuni, Adinda selaku penanggung jawab acara telah menyediakan 32 buah meja dan kursi untuk setiap pasangan yang hadir. Ia sudah menghitung berulang-ulang tiap meja dan kursi yang telah ia sediakan, tapi tetap tersisa satu meja yang kosong. Dan dalam penghitungannya yang terakhir barulah ia menemulan jawabannya.

            Ternyata Fulan dan Candra lah sepasang teman SMP Adinda yang saat ini sadang menjalin hubunan. Hal itu membuat semua temannya terkejut dan mulai membuat keramaian di rumah makan itu.

            “Diam…semua,” teriak Adinda dengan tegas.

            Semua temannya terdiam serentak. Dengan bijak Adinda bertanya pada Fulan dan Candra.
           
            “Apa benar kalian berdua telah menjalin hubungan?”

            “Benar, kita telah menjalin hubungan,” ucap Candra dengan perasaan bertanya-tanya.

            “Sudah sejak kapan?” sahut Tuti teman sebangku Fulan ketika di SMP.

            “Sejak kita SMP,” jawab Fulan.

            “Apa ???” teriak semua teman Fulan dengan nada keras.

            Mereka semua terkejut karena Fulan dan Candra yang selama ini sama-sama pandai, giat belajar, saling bersaing meraih prestasi, selalu rukun dan akrab serta tak pernah menunjukkan sikap layaknya anak SMP yang sedang menjalin hubungan, ternyata keduanya telah berpacaran.

            “Fulan, kenapa kau tidak cerita padaku tentang hal ini?” kata Tuti dengan perasaan kecewa pada Fulan.

            “Maafkan aku, Tut. Aku tak bermaksud tidak mau menceritakan hal ini padamu. Tapi ini semua terjadi begitu saja,” jelas Fulan panjang lebar

            “Fulan, apa kau tidak tahu, bahwa Candra bukanlah……,” ucap Tuti yang terpotong di tengah pembicaraannya dengan Fulan.

            “Cukup. Aku sudah tahu semuanya. Candra bukalah anak kandung pak Hasan, kan guru B. Indonsia kita. Dia hanyalah anak angkat pak Hasan yang diambil dari panti asuhan 15 tahun lalu, yang kita semua tidak tahu asal usul orang tuanya yang sebenarnya, kan. Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih pada kalian yang telah memperhatikan aku. Tapi aku minta maaf, aku sudah terlanjur mencintainya. Rasanya perasaan itu tak bisa ku hapuskan dari dasar hatiku. Aku minta maaf tidak menceritkan ini semua pada kalian sebelumnya. Maafkan aku,” ucap Fulan panjang dengan rasa bersalah pada teman-temannya.

            “Fulan ….,” seru semua temannya.

            Hubungan berlanjut terus tanpa ada masalah selama perjalanan cinta mereka. Fulan dan Candra pun tak ragu dalam menjalani hubungan mereka. Dan wajarlah dalam berhubungan itu ada kalanya saling bertengkar, tapi semua itu dapat mereka lewati dengan lancar.

            Masa-masa indah indah di SMA telah mereka lalui bersama. Tidak ada bedanya seperti waktu masih duduk dibangku SMP, yang selalu meraih peringkat pertama dan kedua. Di SMA pun demikian. Hal itu begitu membanggakan kedua orang tua mereka saat pembagian ringking  hasil tes.

            Setelah keduanya berhasil menamatkan SMA, Fulan yang mengambil jurusan IPA, langsung melanjutkan masuk universitas keperawatan, sedang Candra yang juga mengambil jurusan IPA melanjutkan ke universitas kedokteran. Perjalanan cinta mereka pun masih berjalan lancar.

            Setelah berhasil menamatkan vakultas kedokteran, dengan prestasi yang telah diraih, Candra langsung diterima disebuah rumah sakit ternama. Sedang Fulan menjadi perawat dirumah sakit yang sama pula.

            Keduanya menjalani hari-hari dengan profesi masing-masing dengan penuh kebahagiaan. Disaat itulah keduanya memutuskan untuk berlanjut ke kehidupan baru. Mereka yakin dengan keputusan itu.

            Saat pak hasan, orang tua angkat Candra datang ke rumah pak Husein(ayah Fulan) untuk memintakan izin menikahkan kedua anak mereka, pak Husein menyambut calon besan serta calon menantunya dengan penuh suka cita dan kebanggaan.

            Setelah berbincang-bincang cukup lama, tibalah saatnya pak Hasan mengatakan siapa sebenarnya anak itu.

            “Maaf Pak sebelumnya. Ada hal penting yang sebenarnya belum Bapak ketahui dari Candra,”

            “Apa itu, Pak?” Tanya pak Husein.

            “Candra ini adalah anak yang sudah saya asuh sejak bayi. Yang sebenarnya ayahnya adalah keturunan konglomerat yang bangkrut dalam usahanya. Yang sampai sekarang belum diketahui kabarnya. Nama ayahnya adakah Pak Amiruddin,” jelas pak Hasan panjang lebar.

            “Apa Bapak bilang?” Ucap pak Husein terkejut.

            “Iya, Pak. Betul begitu ceritanya,” ucap pak Hasan meyakinkan pak Husein.

            “Tidak. Itu adalah anak paman saya yang sampai saat ini belum diketahui dimana keberadaannya,” kata pak Husein dengan perasaan tak percaya.

            “Apa Bapak yakin?” kata pak Hasan.

            “Tentu saja saya yakin, Pak,” tegas pak Husein.

            “Ini berarti hubungan Fulan dengan Candra tidak bisa diteruskan,” lanjut pak Husein.

“Tidak, Ayah. Aku sangat mencintai Candra. Dia adalah pria pilihanku. Dan aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, Ayah,” bantah Fulan yang duduk disamping ayahnya.

Perdebatan yang begitu hebat antara ayah dan anaknya, tidak bisa terkendalikan. Pak Husein yang tidak merestui hubungan keduanya pun akhirnya terkalahkan dengan keputusan Fulan. Akhirnya pernikhan pun dilaksanakan.

Beberapa bulan setelah itu, Candra tertimpa kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit menuju ke rumah barunya. Ia dirawat di ruang ICU, karena luka dihampir sekujur tubuhnya, patah tulang di kedua kakinya, dan benturan di bagian kepala yang membuatnya tak sanggup lagi menjalanikehidupan barunya yang telah ia bina selama 6 bulan terakhir ini bersama Fulan.

Candra pun akhirnya meninggal dunia setelah seminggu dalam keadaan koma di rumah sakit. Fulan sangat terpukul dengan keadaan ini. Akhirnya ia sadar bahwa melawan perintah orang tua itu akan menyengsarakan diri sendiri. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa pada ayah dan suaminya.

Kini Fukan menjalani hari-harinya seorang diri tanpa dampingan seorang suami disisinya.