Hello guys., disini saya akan berbagi tentang sebuah cerita antara Cinta, Sahabat, dan Mati
PERSAHABATAN PERCINTAAN dan KEMATIAN
Berawal dari sebuah persahabatan. Lalu terjalinlah hubungan
percintaan. Rajutan cinta dan kasih yang terwujud dalam kehidupan yang nyata
dengan akhir sebuah kematian.
Seperti perjalanan
hidup yang telah dilalui Fulan dan Candra. Mereka adalah dua orang pelajar yang
masih duduk dibangku SMP. Mereka bersekolah di sekolah dan kelas yang sama.
Keduanya sama-sama sisa yang berprestasi. Tak heran jika keduanya selalu meraih
peringkat pertama dan kedua setiap kali pengambilan hasil tes tengah semester
maupun semesteran.
Keduanya sama-sama
rajin dalam belajar maupun beribadah. Keduanya juga tergolong murid yang aktif
dalam berbicara dan berpartisipasi di dalam kelas dan sekolah. Dan mereka juga
sudah tiga tahun bersama dalam kelas, yang ternyata diam-diam mereka telah
menjalin suatu hubungan yang tak diketahui teman dan guru-guru di SMP.
Hubungan mereka
berlanjut di SMA. Keduanya berada dalam satu sekolah bahkan satu kelas pula.
Mereka sama-sama masuk SMA faforit.
Hubungan mereka
mulai diketahui sejak salah seorang teman SMP mereka yaitu Adinda yang
mempunyai ide untuk mengadakan reuni teman SMP dengan membawa partner
masing-masing.
Disuatu tempat
saat mereka mengadakan reuni, Adinda selaku penanggung jawab acara telah
menyediakan 32 buah meja dan kursi untuk setiap pasangan yang hadir. Ia sudah
menghitung berulang-ulang tiap meja dan kursi yang telah ia sediakan, tapi
tetap tersisa satu meja yang kosong. Dan dalam penghitungannya yang terakhir
barulah ia menemulan jawabannya.
Ternyata Fulan
dan Candra lah sepasang teman SMP Adinda yang saat ini sadang menjalin hubunan.
Hal itu membuat semua temannya terkejut dan mulai membuat keramaian di rumah
makan itu.
“Diam…semua,” teriak
Adinda dengan tegas.
Semua temannya
terdiam serentak. Dengan bijak Adinda bertanya pada Fulan dan Candra.
“Apa benar kalian
berdua telah menjalin hubungan?”
“Benar, kita
telah menjalin hubungan,” ucap Candra dengan perasaan bertanya-tanya.
“Sudah sejak
kapan?” sahut Tuti teman sebangku Fulan ketika di SMP.
“Sejak kita SMP,”
jawab Fulan.
“Apa ???” teriak
semua teman Fulan dengan nada keras.
Mereka semua
terkejut karena Fulan dan Candra yang selama ini sama-sama pandai, giat
belajar, saling bersaing meraih prestasi, selalu rukun dan akrab serta tak
pernah menunjukkan sikap layaknya anak SMP yang sedang menjalin hubungan,
ternyata keduanya telah berpacaran.
“Fulan, kenapa
kau tidak cerita padaku tentang hal ini?” kata Tuti dengan perasaan kecewa pada
Fulan.
“Maafkan aku,
Tut. Aku tak bermaksud tidak mau menceritakan hal ini padamu. Tapi ini semua
terjadi begitu saja,” jelas Fulan panjang lebar
“Fulan, apa kau
tidak tahu, bahwa Candra bukanlah……,” ucap Tuti yang terpotong di tengah
pembicaraannya dengan Fulan.
“Cukup. Aku sudah
tahu semuanya. Candra bukalah anak kandung pak Hasan, kan guru B. Indonsia kita. Dia hanyalah anak
angkat pak Hasan yang diambil dari panti asuhan 15 tahun lalu, yang kita semua
tidak tahu asal usul orang tuanya yang sebenarnya, kan. Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih
pada kalian yang telah memperhatikan aku. Tapi aku minta maaf, aku sudah
terlanjur mencintainya. Rasanya perasaan itu tak bisa ku hapuskan dari dasar
hatiku. Aku minta maaf tidak menceritkan ini semua pada kalian sebelumnya.
Maafkan aku,” ucap Fulan panjang dengan rasa bersalah pada teman-temannya.
“Fulan ….,” seru
semua temannya.
Hubungan
berlanjut terus tanpa ada masalah selama perjalanan cinta mereka. Fulan dan
Candra pun tak ragu dalam menjalani hubungan mereka. Dan wajarlah dalam
berhubungan itu ada kalanya saling bertengkar, tapi semua itu dapat mereka
lewati dengan lancar.
Masa-masa indah
indah di SMA telah mereka lalui bersama. Tidak ada bedanya seperti waktu masih
duduk dibangku SMP, yang selalu meraih peringkat pertama dan kedua. Di SMA pun
demikian. Hal itu begitu membanggakan kedua orang tua mereka saat pembagian
ringking hasil tes.
Setelah keduanya
berhasil menamatkan SMA, Fulan yang mengambil jurusan IPA, langsung melanjutkan
masuk universitas keperawatan, sedang Candra yang juga mengambil jurusan IPA
melanjutkan ke universitas kedokteran. Perjalanan cinta mereka pun masih
berjalan lancar.
Setelah berhasil
menamatkan vakultas kedokteran, dengan prestasi yang telah diraih, Candra
langsung diterima disebuah rumah sakit ternama. Sedang Fulan menjadi perawat
dirumah sakit yang sama pula.
Keduanya
menjalani hari-hari dengan profesi masing-masing dengan penuh kebahagiaan.
Disaat itulah keduanya memutuskan untuk berlanjut ke kehidupan baru. Mereka
yakin dengan keputusan itu.
Saat pak hasan,
orang tua angkat Candra datang ke rumah pak Husein(ayah Fulan) untuk memintakan
izin menikahkan kedua anak mereka, pak Husein menyambut calon besan serta calon
menantunya dengan penuh suka cita dan kebanggaan.
Setelah
berbincang-bincang cukup lama, tibalah saatnya pak Hasan mengatakan siapa
sebenarnya anak itu.
“Maaf Pak
sebelumnya. Ada
hal penting yang sebenarnya belum Bapak ketahui dari Candra,”
“Apa itu, Pak?”
Tanya pak Husein.
“Candra ini
adalah anak yang sudah saya asuh sejak bayi. Yang sebenarnya ayahnya adalah
keturunan konglomerat yang bangkrut dalam usahanya. Yang sampai sekarang belum
diketahui kabarnya. Nama ayahnya adakah Pak Amiruddin,” jelas pak Hasan panjang
lebar.
“Apa Bapak
bilang?” Ucap pak Husein terkejut.
“Iya, Pak. Betul
begitu ceritanya,” ucap pak Hasan meyakinkan pak Husein.
“Tidak. Itu
adalah anak paman saya yang sampai saat ini belum diketahui dimana
keberadaannya,” kata pak Husein dengan perasaan tak percaya.
“Apa Bapak
yakin?” kata pak Hasan.
“Tentu saja saya
yakin, Pak,” tegas pak Husein.
“Ini berarti
hubungan Fulan dengan Candra tidak bisa diteruskan,” lanjut pak Husein.
“Tidak, Ayah. Aku sangat mencintai
Candra. Dia adalah pria pilihanku. Dan aku tidak bisa melepaskannya begitu
saja, Ayah,” bantah Fulan yang duduk disamping ayahnya.
Perdebatan yang begitu hebat antara
ayah dan anaknya, tidak bisa terkendalikan. Pak Husein yang tidak merestui
hubungan keduanya pun akhirnya terkalahkan dengan keputusan Fulan. Akhirnya
pernikhan pun dilaksanakan.
Beberapa bulan setelah itu, Candra
tertimpa kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit menuju ke rumah
barunya. Ia dirawat di ruang ICU, karena luka dihampir sekujur tubuhnya, patah
tulang di kedua kakinya, dan benturan di bagian kepala yang membuatnya tak
sanggup lagi menjalanikehidupan barunya yang telah ia bina selama 6 bulan
terakhir ini bersama Fulan.
Candra pun akhirnya meninggal dunia
setelah seminggu dalam keadaan koma di rumah sakit. Fulan sangat terpukul
dengan keadaan ini. Akhirnya ia sadar bahwa melawan perintah orang tua itu akan
menyengsarakan diri sendiri. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa pada ayah
dan suaminya.
Kini Fukan menjalani hari-harinya
seorang diri tanpa dampingan seorang suami disisinya.